Sekretariat : Komplek SMK Sultan Fattah Demak Gedung E. No. 47-49 Jogoloyo Wonosalam Demak | 59571 Telp. 085325121910 :: E-mail. osissmksulfademak@gmai.com

Selamat dan Sukses

Atas dilantinya Bp. Kasnawi, S.Pd menjadi Kepala SMK Sultan Fattah Demak masa periode 2017-2020.

DIKSARLAP II 2016

Pendidikan Dasar Lapangan II Tahun 2016 dilaksanakan pada tanggal 24-27 Desember 2016 di Gunung Ungaran.

Selamat Datang .... !!!

Di Blog OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) SMK SUltan Fattah Demak. Sebagai media informasi seputar Program Kerja dan kegiatan-kegiatan baik intra dan Ekstra.

PELANTIKAN DEWAN AMBALAN DI GEDONGSONGO

Pelantikan Dewan Amabalan Sultan Trenggono - Ratu Kalinyamat SMK Sultan Fattah Demak telah dilantik di Gedongsongo Semarang.

KARNAVAL HUT RI 71 SMK SULTAN FATTAH DEMAK

Dalam rangka peringatan HUT RI 71 Osis SMK Sultan Fattah Demak ikut karnaval yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kab. Demak Tahun 2016.

Ujian Praktek Kejuruan Tahun 2017

Selamat dan (semoga) Sukses dalam melakskanakan Ujian Praktek Kejuruhan SMK Sultan Fattah Demak Tahun 2017 semua program jurusan

Sabtu, 10 Juni 2017

Indahnya Berbagi, SMK Sultan Fattah Demak Bagi Takjil Buka Puasa Gratis




Indahnya Berbagi, SMK Sultan Fattah Demak
Bagi Takjil Buka Puasa Gratis


Marhaban Ya Ramadhan,
Bulan ramadhan memiliki keistimewaan tersendiri dibanding bulan-bulan yang lain. Bulan Ramadhan merupakan kesempatan besar sekaligus menjadi acuan bagi seluruh umat muslim untuk kembali meningkatkan kuantitas dan kualitas dalam beribadah.

Seperti dalam sebuah hadits dikatakan, “...Barang siapa yang melakukan kebaikan (ibadah sunah) di bulan itu pahalanya seperti melakukan ibadah wajib dibanding bulan yang lainnya. Dan barang siapa melakukan kewajiban di dalamnya, maka pahalanya seperti melakukan 70 kewajiban dibanding bulan lainnya...” (HR. Ibnu Huzaimah)

Oleh karena itu, seringkali umat muslim lebih termotivasi untuk berlomba-lomba dalam kebaikan mulai dari awal hingga akhir ramadhan baik berupa ibadah-ibadah yang sifatnya mahdlah (hablum minallah) ataupun mualamalah (hablum minannas).

OSIS SMK Sultan Fattah Demak dalam menghiasi amalan-amalan dalam kebaikan dibulan suci ramadhan ini mempunyai program yang unik dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Program tersebut di antara Bagi Takjil Gratis kepada masyarakan Kab. Demak sebagai wujud bhakti masyarakat dan dilanjutkan buka bersama Osis dengan Guru dan Karyawan SMK Sultan Fattah Demak. 03/06-2017.

Acara bagi takjil ini diikuti seluruh anggota Osis SMK Sultan Fattah Demak dan disambut hangat oleh bapak ibu guru, yang di laksanakan mulai tanggal 3 Juni 2017 kemarin. Rencananya kegiatan tersebut akan dilanjutkan pada tanggal 5, 7 dan 10 di bulan juni 2017 di sekitar wilayah Kab. Demak.
“Mari kita lakukan yang terbaik untuk meraih keberkahan SMK Sultan Fattah Demak di bulan suci ramadhan dengan indahnya berbagi, sebagai wujud Bhakti Masyarakat SMK Sultan Fattah cinta Ramadhan”, turur Bp. Kasnawi, S.Pd yang selalu hadir saat pembagian takjil gratis.

Dengan tema “Keluaga SMK Sultan Fattah Demak Cinta Ramadhan”,  ini mendapat dukungan penuh dari siswa, guru dan  karyawan SMK Sultan Fattah Demak. Sebagai bukti setiap guru menyumbangkan takjil berupa es bubur kacang ijo, jus buah, gorengan dan sebagainya. Sampai-sampai sebagian karyawan ada yang antusias ikut partisipasi dalam takjil gratis dengan polowijau berupa terong, kacang pancang dll.


Acara ini selain mendapat sumbangan dari bapak ibu guru, juga mendapat dukungan dari instansi-instansi luar. Diantaranya adalah BRI Syariah Cabang Demak, BKK Kab. Demak dan lembaga instansi lainnya.

Daimul, S.Pd selaku Pembina Osis di SMK Sultan Fattah demak berharap, “ke depan, jika acara dibulan ramadhan ini sukses dan lancar, maka setiap tahunnya akan dilaksanakan sebagai program tahunan osis. Sebagai wujud kecintaan kita dan bhakti kita kepada masyarakat. Dan semoga kita mendapat keberhan di bulan penuh dengan rahmat”.


Dengan berbagi, maka setiap orang bisa meningkatkan rasa empati dan kepeduliannya terhadap keadaan orang-orang disekitarnya yang belum beruntung, dan itu lebih terasa pada saat bulan Ramadhan. Dengan membiasakan diri untuk bersedekah/berbagi kepada orang lain pada bulan Ramadhan, maka insya Allah hal itu akan terus dilakukan secara kontinu walaupun bulan Ramadhan telah berakhir. M-d



Share:

Minggu, 04 Juni 2017

Asal mula 1 Juni jadi hari lahirnya Pancasila



Ini asal mula 1 Juni jadi hari lahirnya Pancasila
Merdeka.com - Pohon sukun itu berdiri di atas sebuah bukit kecil menghadap ke teluk. Hampir saban hari selama pembuangan di Ende, Flores, Soekarno selalu mengunjungi pohon itu untuk sekadar memandanginya selama berjam-jam.

"Suatu kekuatan gaib memaksaku ke tempat itu hari demi hari," kata Soekarno yang dibuang pemerintah Belanda ke pulau sunyi itu dari 1934 sampai 1938.

Dalam otobiografinya 'Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia', sang proklamator menganggap pohon itu bukan sekadar pohon. Tetapi juga pemberi ilham menggali Pancasila.


Soal ilham pohon bernama latin Artocarpus communis itu pernah diungkapkan Bung Karno di hadapan sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1 Juni 1945, atau tepat 67 tahun lalu.

"Di Pulau Flores yang sepi, di mana aku tidak memiliki kawan, aku telah menghabiskan waktu berjam-jam lamanya di bawah sebatang pohon di halaman rumahku, merenungkan ilham yang diturunkan oleh Tuhan, yang kemudian dikenal sebagai Pancasila," cetus Bung Karno.

Bung Karno mengatakan, apa yang dia kerjakan hanyalah menggali jauh ke dalam bumi dan tradisi-tradisi nusantara sendiri. "Dan aku menemukan lima butir mutiara yang indah," ujarnya.

Lima mutiara itu adalah berharga itu adalah: Kebangsaan, Internasionalisme atau Perikemanusiaan, Demokrasi, Keadilan Sosial dan Ketuhanan Yang Maha Esa. Rumusan inilah yang kemudian menjadi Pancasila sekarang.

"Jika kuperas yang lima ini menjadi satu, maka dapatlah aku satu perkataan Indonesia tulen, yaitu perkataan gotong-royong," kata Bung Karno.

Pidato Soekarno di BPUPKI itu mendapat tepuk tangan meriah. Pancasila diterima secara aklamasi.

BPUPKI kemudian membentuk Panitia Kecil untuk merumuskan dan menyusun Undang-Undang Dasar dengan berpedoman pada pidato Bung Karno tersebut. Dibentuklah Panitia Sembilan (terdiri dari Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Mr. AA Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Abdul Kahar Muzakir, Agus Salim, Achmad Soebardjo, Wahid Hasjim, dan Mohammad Yamin). Mereka ditugaskan untuk merumuskan kembali Pancasila sebagai Dasar Negara berdasar pidato yang diucapkan Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945.

Setelah melalui proses persidangan dan lobi-lobi akhirnya rumusan Pancasila hasil penggalian Bung Karno tersebut berhasil dirumuskan untuk dicantumkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945, yang disahkan dan dinyatakan sah sebagai dasar negara Indonesia merdeka pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh BPUPKI.

Hingga kini setiap 1 Juni diperingati sebagai hari lahir Pancasila. [ian]


Share:

Jumat, 21 April 2017

Kartini Nyantri: Inspirasi Perjuangan "Habis Gelap Terbitlah Terang"


Kartini Nyantri: Inspirasi Perjuangan
"Habis Gelap Terbitlah Terang" 

Oleh Fathoni Ahmad
Selama ini RA Kartini dikenal sebagai seorang bangsawan Jawa sekaligus priyayi, cara mudah bagi orang yang pertama kali medengar namanya cukup dengan membaca gelarnya, Raden Adjeng (RA). Raden Adjeng Kartini adalah putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, Bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kiai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI.
Secara spesifik, tulisan ini tidak bermaksud membahas geneologi atau silsilah Kartini, tetapi bagaimana pemikiran revolusionernya tumbuh di tengah tradisi paternalisitik yang kental di lingkungan keluarganya. Tidak bisa dipungkiri, kuatnya paternalisitk inilah yang membuat Kartini selalu mencari jawaban dari anomali yang terjadi. Mengapa peran perempuan seolah hanya menjadi pelengkap kehidupan laki-laki? Tentang jawaban pertanyaan ini, Kartini sudah membuktikan diri dan memberi inspirasi bagi para perempuan untuk berperan sesuai dengan kemampuannya di tengah masyarakat dengan tidak menanggalkan perannya sebagai ibu di rumah tangga dan sebagai perempuan sesuai fitrahnya.
Masuk ke topik inti bahwa selain bangsawan Jawa, Kartini  juga seorang santri. Dia nyantri dan belajar agama kepada Kiai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang, Jawa Tengah  yang juga dikenal dengan Mbah Sholeh Darat. Sebelum melakukan perjuangan kemerdekaan peran perempuan, pola pikir Kartini terbentuk ketika belajar ngaji kepada Kiai Sholeh Darat. Sebelumnya, kegelisahan demi kegelisahannya muncul ketika fakta yang ada masyarakat hanya bisa membaca Al-Qur’an tetapi tidak diperbolehkan memahami artinya pada zaman itu.
Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, RA Kartini menulis:
Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?
Al-Qur’an terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Al-Qur’an tapi tidak memahami apa yang dibaca.
Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya.
Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?
RA Kartini melanjutkan kegelisahannya, tapi kali ini dalam surat bertanggal 15 Agustus 1902 yang dikirim kepada Ny Abendanon.
Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Qur’an, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya.
Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa. Kita ini terlalu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya.
Sampai akhirnya Kartini bertemu dengan Kiai Sholeh Darat untuk belajar ngaji dan menanyakan berbagai hal yang menjadi kegelisahannya selama ini terkait dengan tidak diperbolehkannya masyarakat memahami isi dan makna Al-Qur’an. Fakta sejarah yang ada, ternyata kebijakan ini datang dari para penjajah dengan asumsi jika masyarakat memahami Al-Qur’an, maka jiwa merdeka akan tumbuh. Tentu hal ini akan mengancam eksistensi kolonial itu sendiri. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa tidak banyak ulama saat itu yang menerjemahkan Al-Qur’an, bukan tidak mau dan tidak mampu, tetapi harus berhati-hati dengan kebijakan Belanda itu.
Fakta sejarah pertemuan antara RA Kartini dengan Kiai Sholeh Darat memang tidak diceritakan Kartini di setiap catatan surat-suratnya. Hal ini tidak lebih karena Kartini sendiri mengkhawatirkan keselamatan Mbah Sholeh Darat karena tidak tertutup kemungkinan kaum kolonial akan mengetahuinya.
Mbah Sholeh Darat sendiri dalam pengajian yang diberikannya kepada Kartini menjelaskan tentang tafsir surat Al-Fatihah. Hal ini seperti yang diceritakan oleh cucu Mbah Sholeh Darat, Nyai Hj Fadhilah Sholeh. Dalam ceritanya, Nyai Fadhilah mengisahkan:
Takdir mempertemukan Kartini dengan Kiai Sholel Darat. Pertemuan terjadi dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya.
Kemudian ketika berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak, RA Kartini menyempatkan diri mengikuti pengajian yang diberikan oleh Mbah Sholeh Darat. Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat al-Fatihah. RA Kartini menjadi amat tertarik dengan Mbah Sholeh Darat.
Kiai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kiai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang kiai.
Ini bisa dipahami karena selama ini Kartini hanya membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu.
Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kiai Sholeh Darat. Sang paman tak bisa mengelak, karena Kartini merengek-rengek seperti anak kecil. Berikut dialog Kartini-Kiai Sholeh.
“Kiai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.
Kiai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Adjeng bertanya demikian?” Kiai Sholeh balik bertanya.
“Kiai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al-Fatihah, surat pertama dan induk Al-Qur’an. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.
Kiai Sholeh kembali tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan, “Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Qur’an ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al-Qur’an adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”
Dialog berhenti sampai di situ. Nyai Fadhila menulis Kiai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali berucap “Subhanallah”. Kartini telah menggugah kesadaran Kiai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam Bahasa Jawa.
Dari riwayat di atas, Kartini menemukan cahaya yang menerangi berbagai kegelapan pengetahuan dan ilmu yang selama ini melingkupinya dengan ngaji kepada Mbah Sholeh Darat. Inspirasi inilah yang membuat Kartini memberi judul buku yang berisi surat-suratnya dengan “Habis Gelap Terbitlah Terang”.
Secara historis, dalam pertemuan itu RA Kartini meminta agar Al-Qur’an diterjemahkan. Karena menurutnya, tidak ada gunanya membaca kitab suci tapi tidak memahami artinya. Namun pada saat itu pula penjajah Belanda secara resmi melarang penerjemahan Al-Qur’an. Mbah Sholeh Darat tetap melakukan penerjemahan, Beliau menerjemahkan Al-Qur’an dengan ditulis dalam huruf “Arab gundul” (pegon) sehingga tidak dicurigai dan dipahami penjajah.
Kitab tafsir dan terjemahan Al-Qur’an ini diberi nama Kitab Faidhur-Rohman, tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab pegon. Kitab ini pula yang dihadiahkannya kepada RA Kartini pada saat dia menikah dengan RM Joyodiningrat, seorang Bupati Rembang.  Kartini amat menyukai hadiah itu dan mengatakan:
“Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari  ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kiai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa  yang saya pahami.”
(Inilah dasar dari buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang ditulis RA Kartini, bukan dari sekumpulan surat-menyurat beliau. Dalam hal ini, substansi sejarah Kartini konon telah disimpangkan secara siginifikan). Melalui terjemahan Mbah Sholeh Darat itulah RA Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya yaitu:
“Orang-orang beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya.” (QS. Al-Baqarah: 257).
Dalam sejumlah suratnya kepada Abendanon, Kartini banyak mengulang kata “dari gelap menuju cahaya” yang ditulisnya dalam bahasa Belanda, Door Duisternis Toot Licht. Oleh Armijn Pane, ungkapan ini diterjemahkan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang,” yang menjadi judul untuk buku kumpulan surat-menyuratnya. 
Surat yang diterjemahkan Kiai Sholeh adalah Al-Fatihah sampai Surat Ibrahim. Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya. Namun sayangnya penerjemahan Kitab Faidhur-Rohman ini tidak selesai karena Mbah Kiai Sholeh Darat keburu wafat.
Dari perjumpaannya dengan Mbah Sholeh Darat itu, Kartini juga banyak memahami kehidupan masyarakat yang selama ini terkungkung penjajahan sehingga banyak memunculkan sikap inferioritas terutama di kalangan perempuan. Keterbukaan pandangan dan pemikiran Kartini dari hasil kawruh (belajar) kepada Mbah Sholeh Darat inilah yang membuat langkahnya semakin mantap untuk mengubah tatanan sosial kaum perempuan dan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Selamat Hari Kartini!
Penulis adalah Redaktur NU Online.
*) Tulisan ini disarikan dari berbagai sumber.



Share:

Sabtu, 08 April 2017

Peringatan Hari Kartini Ala SMK Sultan Fattah Demak



PERINGATAN HARI KARTINI 

  • SMK Sultan Fattah Demak Adakan Lomba Grafiti dan Bagi Bunga

Jum'at (21/4). Siswa-siswi yang SMK Sultan Fattah Demak menggelar berbagai kegiatan unik dan menarik di lapangan tengah sekolah yang diikuti oleh seluruh pelajar, Bapak/Ibu guru serta karyawan dengan mengangkat Tema “ Cinta Tanah Akhir“, dalam rangka memeriahkan Hari Kartini .

Ratusan siswa putra/putri berpakaian batik terlihat ekspresi gembira terpancar dari raut wajah mereka dan Ibu guru memakai kebaya nasional tidak sedikit diantara mereka yang kesulitan berjalan karena tidak terbiasa mengenakan pakaian kebaya yang biasanya menggunakan pakain seragam.


Menurut Kepala Sekolah melalui Waka Humas Ibu Ika Dewi, S.Pd yang menjadi Pembina Upacara, acara itu bertujuan guna mengenang jasa pahlawan nasional Ibu RA. Kartini yang telah membangkitkan emansipasi wanita dan memperjuangkan kaum wanita.

Adapun Kegiatannya meliputi : lomba puisi, pidato, estafet klereng, ambil koin dari buah melon, grafiti, dan pembagian bunga oleh ibu guru SMK Sultan Fattah Demak. Demikian ungkap  Bp. Daimul Huda, S.Pd selaku pembina Osis.


Setiap tahun SMK Sultan Fattah Demak yang terdapat 741 siswa dengan program kejuruhan 4 jurusan menyelenggarakan kegiatan memperingati Hari Kartini. Tetapi tahun ini dibuat konsep yang sedikit berbeda dari tahun yang lalu. Yaitu, Menggelar lomba grafiti yangdari tahun tahun sebelumnya belum pernah diadakan baik saat lomba clasmeeting dan lainnya. Lomba grafiti ini berawal dari maraknya siswa siswi yang hoby corat-coret white board / papa tulis. Maka dariitu banyak siswa yang antusias mengikuti lomba tersebut kurang lebih 13 kelas baik dari kelas X dan kelas XI, sedangkan kelas XII tidak diikut sertakan karena telaah selesai Ujian Nasional beberapa minggu yang lalu.


Disisi lain, ibu guru yang biasanya lomba masak nasi goreng dan tumpeng, pada tahun kali ini beda. Yaitu membagikan bunga mawar yang di bungkus oleh brosur SMK di depan gerbang SMK Sultan Fattah Demak kepada masyarakat umum yang melintas di Jl. P. Diponegoro Jogoloyo Wonosalam Demak. Pembagian bunga ini sebagai wujud rasa cinta kepada sesama sebagai awal untuk mencintai tanah air di bumi nusantara ini dan sekaligus mengenalkan almamater SMK Sultan Fattah Demak siap menerima siswa baru.



Share:

Format Contoh Ijin Kegiatan Sekolah

ORGANISASI SISWA INTRA SEKOLAH (OSIS)
SMK SULTAN FATTAH DEMAK
TERAKREDITASI : B
Kampus Hijau :  Jl. Diponegoro No. 47-49 Phone : (0291) 6904032 Jogoloyo Wonosalam Demak-59571 Email : smksulfa@gmail.com  :: Website: www.smksulfademak.wordpress.com


Nomor            : 012/OSIS/I/2017
Lamp.              : -
Hal                  : Permohonan Ijin

Kepada Yth. :
Pengasuh PP. Al Falah
Jogoloyo Wonosalam Demak
di – Demak

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama                : Daimul Huda, S.Pd
Alamat              : Ngariboyo Kebonagung Demak
Jabatan              : Pembina Osis SMK Sultan Fattah Demak
Dengan ini mohon ijin untuk :
Nama                : Shinta Falasifa Diana
Kelas                 : XI AP
Pondok             : Ponpes. Al Falah Jogoloyo
Acara Rapat Koordinasi Pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) SMK Sultan Fattah Demak. Jum’at, 20 Januari 2017 Waktu , 13.30 – selesai
Demikian permohonan ijin kami sampaikan, atas ijin yang diberikan kami haturkan terima kasih.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Demak,  20 Januari 2017
Pembina Osis,

Daimul Huda, S.Pd



Share:

Selasa, 14 Maret 2017

Bakti Sosial Osis SMK Sulfa di Balai Pelayanan Sosial Asuhan Anak (Bapelsos) "KASIH MESRA" Demak


Dari Hakîm bin Hizâm Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : "Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu. Dan sebaik-sebaik sedekah adalah yang dikeluarkan dari orang yang tidak membutuhkannya. Barangsiapa menjaga kehormatan dirinya maka Allâh akan menjaganya dan barangsiapa yang merasa cukup maka Allâh akan memberikan kecukupan kepadanya.”

Dalam kegiatan Pengenalan Lingkungan Sekolah peserta didik baru tahun pelajaran 2016/2017 SMK Sultan Fatah Demak selain diperkenalkan dengan kurikulum dan akademik yang ada di sekolah, diperkenalkan pula pentingnya hidup bersosial. Salah satunya adalah saling berbagi kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan.

Setiap peserta didik diharapkan untuk membawa bantuan seikhlasnya. Baik berupa makanan, minuman, dan alat tulis. dll. Kemudian bantuan tersebut di kumpulkan kepada koordinator pengurus osis yang telah di tugaskan. Setelah terkumpul semua bantuan dari siswa baru, bantuan tersebut di kemas dan di data siap untu k disalurkan.

Perwakilah pengurus Osis  dan didampingi pembina osis Bp. Daimul Huda, S.Pd menyalurkan bantuan tersebut ke  Balai Pelayanan Sosial Asuhan Anak (Bapelsos) Kasih Mesra Demak. Bp. Daimul H. menyampaikan bahwa ini merupakan wujud tali asih dan saling memberi sesama insaniyah. ".. semoga sedikit makanan, minuman dan barang ini bisa bermanfaat untuk anak-anak yang ada di balai asuhan anak kasih mesra ini." tuturnya saat menyalurkan bantuan yang dihasilkan dari kegiatan sosial dalam acara PLS SMK Sultan Fattah Demak.

Harapan ke depan, program yang baik ini akan tetap ada di PLS/Mopdik/MOS tahun depan, khusunya di SMK Sultan Fattah Demak. 
--------
Red;Foto Dokumentasi Penyaluran Bantuan Sosial dalam acara Pengenalan Lingkungan Sekolah SMK Sultan Fattah Demak Tahun 2016 di Balai Pelayanan Sosial Asuhan Anak (Bapelsos) Kasih Mesra Demak.

~~~








Share:

Senin, 13 Maret 2017

41 HARI ISTIGHOSAH BERSAMA JELANG AKHIR TAHUN DAN AWAL TAHUN PELAJARAN SMK SULTAN FATTAH DEMAK



41 HARI ISTIGHOSAH BERSAMA
JELANG AKHIR TAHUN DAN AWAL TAHUN PELAJARAN
SMK SULTAN FATTAH DEMAK


AKHBARINA | Osis Sulfa Demak. Pelaksanaan ujian di SMK Sultan Fattah Demak telah di laksanakan. Meliputi Ujian Praktek Kejuruhan, Tryout, Silmulasi UNBK , Ujian Praktek Sekolah dll. Ujian Nasional Berbasis Komputet 2017 akan dilaksanakan pada tanggal 3 s.d 6 April 2017 secara serentak SMA/SMK, dan akan dilanjutkan agenda Penglepasan Siswa Kelas XII SMK Sultan Fattah Demak. Dan menyongsong tahun pelajaran baru 2017/2018 dalam rangka penerimaan peserta didik baru, bulan maret 2017 sudah mulai digerakkan acara sosialisasi ke MTS/SMP khususnya di kabupaten Demak. Maka untuk mengakhiri Tahun Ajaran 2016/2017 dengan jelang ujian / kelulusan dan penerimaan siswa baru tahun ajaran 2017/2018 SMK Sultan Fattah Demak melaksanakan kegiatan Istighosah dan Dzikir bersama Guru, Karnyawan, Osis dan kelas XII SMK Sultan Fattah Demak.

Istighosah dilaksanakan setiap ba’da maghrib awal, dan pelaksanaan kegiatan Istighosah di hari pertama (9/3) berlangsung dengan khusyuk. Guru agama mendapat jadwal untuk memimpin berlangsungnya istighosah. Sedangkan bapak ibu guru dan karyawan mendapat jadwal shodaqoh sekadarnya minuman cemilan usai istighosah untuk semua hadirin.




Bapak Kasnawi, S.Pd selaku kepala sekolah dalam sambutannya, beliau berharap semoga dengan adanya istighosah Allah memberikan keberkahan, sehingga SMK Sultan Fattah Demak semakin menjadi yang terbaik dan mengharap untuk seluruh Guru dan Karyawan bisa mengikuti acara istighosah dan yang terpenting adalah keikhlasan para hadirin. “Istighosah ini merupakan ciri khas yang ada di SMK Sultan Fattah Demak maka jangan sampai kita abaikan, dan yang terpenting dalam acara istighosah kali ini adalah rasa keikhlasan dari bapak / ibu saudara semua. Apa arti kehadiran bapak ibu saudara tanpa keikhlasan panjenengan semua (red;kalian semua)”, imbuhnya beliau kepala sekolah yang baru dilantik satu minggu yang lalu.  

"Al-muhafadhotu ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah” memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik. Kegiatan Istighotsah ini merupakan salah satu ihtiar dari sekolah dan nguri nguri budaya islam tardisionalis yang merupakan amalan-amalan yang sering dilakukan dikalangan Nahdliyin, semoga dengan istighosah ini SMK Sultan Fattah mendapat keberkahan sehingga lulusan kelas XII mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan barokah dan ditahun ajaran baru diberkahi siswa-siswai yang melimpah dan berakhlaqul karimah," kata Bapak Samsul Muarif S.Pd.I yang sebelum memimpin acara istighosah di hadapan puluhan Guru, karyawan, Osis dan siswa kelas XII.



Pelaksanaan istighosah berlangsung khusuk dan tertib dan tutup Do'a oleh KH. Abdul Kholiq, S.Ag dengan diikuti oleh para siswa dan juga para guru yang ikut hadir dalam kegiatan tersebut. (m-d)



Share:

PEMBINA OSIS

PEMBINA OSIS
Daimul Huda, S.Pd

Recent Posts

Unordered List

Definition List